Komite II Apresiasi Ekspor Produk Pertanian Asal Jawa Timur Senilai Rp140 Miliar

DPD RI – Wakil Ketua III Komite II DPD RI Hasan Basri dan anggota Komite II Adilla Azis mengapresiasi pelepasan ekspor produk pertanian asal Provinsi Jawa Timur senilai Rp 140 miliar. Hasan Basri berharap sinergi yang sudah terjalin baik dari beberapa kementerian dalam ekspor tersebut perlu terus ditingkatkan untuk percepatan pemulihan ekonomi nasional.

“Saya selaku pimpinan Komite II DPD RI berharap sinergi lintas kementerian ini terus ditingkatkan sebagai langkah strategis dalam percepatan pemulihan ekonomi nasional di tengah tantangan Pandemi Covid-19, sesuai arahan Presiden Jokowi,” ujar Hasan Basri.

Pelepasan ekspor produk pertanian asal Provinsi Jawa Timur dilakukan di Teluk Lamong, Gresik pada Jumat (12/3). Hasan Basri, senator asal Kaltara dan Adilla Azis yang merupakan senator asal Jawa Timur mendampingi Mentan Syahrul Yasin Limpo, Mendag Muhammad Lutfi, Menteri BUMN Erick Thohir dan Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa.

Produk pertanian yang diekspor antara lain 60 ton pakan ternak senilai Rp300 juta ke Timor Leste, 494 kg sarang burung walet senilai Rp9,9 miliar ke Tiongkok, 83,4 ton cocoa butter dan powder senilai Rp4,98 miliar ke Tiongkok dan 174,4 ton fiber mixed feed senilai Rp393 juta ke Korea Selatan.

Pada kesempatan yang sama Mentan Syahrul Yasin Limpo menjelaskan bahwa secara nasional Kementan melalui Badan Karantina Pertanian telah melakukan fasilitasi sertifikasi ekspor terhadap 81,3 ribu ton komoditas pertanian dengan nilai mencapai Rp. 1,264 triliun. Kontribusi terbesar berasal dari sub sektor perkebunan yakni 78,9 persen, diikuti masing-masing dari sub sektor tanaman pangan, peternakan dan hortikultura.

Produk pertanian yang diekspor pada kesempatan pelepasan ekspor tersebut antara lain berupa sarang burung walet, pakan ternak, premik, cicak kering, lipan kering, kelapa bulat, cacao powder, cacao butter, kopi biji dan cengkeh.

“Pelepasan ekspor hari ini cukup besar dan saya kira apa yang dilakukan Gubernur Jawa Timur kami bertiga dari Kementan, Kemendag dan Kementerian BUMN siap untuk terus mendukungnya,” ujar Syahrul Yasin Limpo.

“Menghadapi pandemi dengan berbagai dampak yang ada, maka kerja tidak bisa satu sektor saja. Kita harus hand to hand. Hari ini kami datang untuk melepas ekspor. Bersama kita genjot pasar ekspor produk pertanian kita,” tambahnya. 

 

 

Sementara itu, Mendag Muhammad Lutfi  menyampaikan rasa syukurnya atas pelepasan ekspor asal Provinsi Jatim yang cukup besar. Langkah strategis ini dilakukan untuk memastikan pasar ekspor produk pertanian Indonesia menjadi salah satu penggaet devisa negara.

“Selamat atas ekspor yang luar biasa. Kita bisa lihat kita penghasil, penjual, pengekspor kopi salah satu yang terbaik di dunia. Kita juga ingin menjual barang barang prospektif Indonesia seperti sarang walet untuk memastikan ekspor menjadi salah devisa negara,” ujar Lutfi.

“Mudahan-mudahan kita bisa berevolusi dari negara penjual barang mentah, barang setengah jadi menjadi barang jadi dengan menggunakan industri teknologi tinggi. Semoga ke depan, Jawa Timur menjadi eksportir dari barang barang ekspor Indonesia,” ucap Lutfi lagi.

Sedangkan Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa berterimakasih kepada Kementan yang terus memberikan penguatan sektor pertanian di Provinsi Jatim. Ke depan, Jatim terus berupaya menghasilkan produk yang sudah diolah dan siap diolah untuk menjadi pasokan pasar internasional.

Jawa Timur merupakan provinsi terbesar kedua pada tingkat perekonomian di Indonesia setelah DKI Jakarta dengan kontribusinya 1/6 persen perekonomian nasional. 30 persen sumbangan perekonomian Jawa Timur bagi perekonomian nasional berasal dari industri manufaktur dan 18 persen dari sektor perdagangan. Hampir 50 persen perekonomian Jawa Timur bukan diperoleh dari sumber daya alam, tapi dari industri dan perdagangan. 

Sektor-sektor potensi yang perlu didorong agar pertumbuhan ekonomi Jawa Timur kembali membaik adalah industri kertas, industri  dan perdagangan,  kimia dan ditambah investasi. Investasi Jawa Timur terus menunjukan catatan mengembirakan  dan justru mengalami pertumbuhan di saat pandemi. Investasi atau Penanaman Modal Asing (PMA) juga mengalami pertumbuhan cukup menggembirakan meskipun masih di bawah Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN).(*)